…
Tuhan, mustahil Engkau tak campur tangan
Karena hitam-putih tangan-Mu adalah keniscayaan
Tuhan, mana mungkin Engkau abadikan kebimbangan
Karena kepastian adalah janji-Mu
dan Engkaulah Pengadil yang dirindukan
manakala kami rindu
…
(dari Puisi Segeralah Berlalu)
Mengenal Dampak Covid-19
Coronavirus adalah keluarga besar virus yang bisa menyebabkan penyakit, mulai dari flu biasa hingga penyakit pernapasan paling parah, seperti Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) dan Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS).
Sejak pertama kali virus ini terdeteksi di Wuhan, China, pada Desember 2019, wabah ini telah berkembang sangat cepat. WHO lalu melabeli wabah corona virus atau Covid-19 (Corona virus disease – 2019) ini sebagai pandemi global.
Menurut Worldometers, per Rabu (22/4/2020) pukul 09:00 WIB, sudah ada 2.556.745 orang yang terinfeksi di 210 negara dan wilayah. Dari total itu, kematian akibat COVID-19 mencapai 177.619 kasus dan sembuh sebanyak 690.393 orang. Amerika Serikat saat ini memiliki penderita dan korban meninggal terbanyak, yaitu memiliki 818.744 kasus corona dengan 45.318 kematian.
Cepatnya penyebaran dan besarnya korban virus ini memberikan pembelajaran luar biasa untuk manusia. Harus ada pergerakan total untuk bisa menekan pergerakan sang virus. Pergerakan total ini bukan hanya berdampak pada pengalihan anggaran bidang kesehatan, melainkan memaksa adanya perubahan perilaku masyarakat agar mata rantai penyebaran virus ini dapat diputus.
Bukan hanya itu, pemerintah dan aparat harus benar-benar turun langsung dalam pengambilan kebijakan, sehingga lahirlah istilah social distancing (pembatasan sosial), physical distancing (pembatasan fisik), stay at home (berdiam di rumah), hingga pembatasan sosial berskala besar atau dikenal dengan istilah PSBB. Semoga di wilayah negeri ini cukup sebatas PSBB saja. Saya tidak bisa membayangkan jika pemerintah terpaksa memberlakukan aturan lock down (karantina wilayah). Sebab jika istilah terakhir ini yang diberlakukan, maka kita berada dalam wilayah “mati”. Tidak diperkenankan keluar rumah untuk alasan apapun.
Saat ini saja kita dan seluruh elemen bangsa ini merasakan besarnya dampak dari Covid-19 ini. Belum ada dampak wabah yang “menghajar” hampir semua aspek kehidupan sosial masyarakat. Jangan tanya aspek kesehatan masyarakat, karena nyawapun menjadi begitu “murah” dirampas virus ini. Tiada hari tanpa kematian. Perekonomian, pendidikan industri, ketenagakerjaan, terlihat porak poranda. Bahkan kegiatan keagamaan yang selama ini tidak mudah “dijamah” pemerintah, mau tidak mau harus mengikuti protokoler kesehatan.
Belajar dari Covid-19
Tidak semua dampak wabah Covid-19 ini buruk. Terdapat banyak pembelajaran yang diperoleh dari merebaknya wabah ini. Berikut adalah dampak positif terhadap sikap masyarakat (kita) dapat dirasakan antara lain:
Pertama, pola hidup bersih dan sehat. Sebelum wabah corona muncul, sebagian dari kita mungkin termasuk malas melakukan kegiatan mencuci tangan dengan benar. Jika itu dilakukan biasanya dengan cara sederhana saja. Ketakutan akan virus corona menempel di tangan kita menyebabkan kita lebih rajin melakukan kegiatan ini. Tak cukup itu saja, kita juga sekarang rajin menggunakan hand sanitizer untuk membuat tangan kita lebih steril dari virus. Lihatlah juga kita menjadi begitu peduli pada kebersihan lingkungan melalui kegiatan bersih-bersih dan penyemprotan disinfektan. Hebatnya lagi, kita dengan mudah bisa menemukan sarana mencuci tangan hampir di semua tempoat layanan umum seperti kantor, super market, rumah ibadah, stasiun, terminal, bandara, dan lain-lain.
Kedua, kedekatan dalam keluarga. Tagar stay at home di berbagai media sosial, bukan hanya menjadi slogan, melainkan nyata. Kita begitu banyak memiliki waktu untuk berada bersama dalam keluarga di dalam rumah. Bapak-bapak bekerja dari rumah, ibu-ibu rajin memasak di rumah, dan anak-anak belajar dari rumah. Semua berada dalam satu atap dan berkomunikasi satu-sama lain secara lebih dekat dan akrab. Bahasa kerennya: gathered at home.
Ketiga, tidak gagap teknologi. Banyak aspek kegiatankantor atau pekerjaan harus diatur dalam jaringan (daring). Hal ini memaksa setiap orang yang terlibat untuk menggunakan atau memanfaatkan teknologi. Pekerjaan dan pertemuan kantor dirancang secara daring melalui telekonferensi atau instruksi secara virtual. Interaksi guru dan murid berlangsung dalam kegiatan online (daring), menggunakan fasilitas internet, laman situs, dan berbagai aplikasi komunikasi seperti whatsapp, telegram, instagran, dan lain-lain. Ibu-ibu juga tak mau ketinggalan. Mereka berbelanja kebutuhan harian menggunakan jasa aplikasi atau kurir driver “ojol”.
Keempat, keamanan lingkungan. Wabah virus corona telah membuat masyarakat enggan meninggalkan rumah. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan para pelaku tindak kejahatan, terutama yang selama ini mengincar rumah-rumah kosong atau suasana sepi. Demikian pula kebijakan pembatasan wilayah menjadikan minimnya kedatangan orang asing yang memasuki daerah hunian. Orang asing lebih dicurigai sebagai pembawa virus corona karena asal-usulnya kurang diketahui pasti.
Kelima, peningkatan konsumsi vitamin, herbal dan olah raga. Virus susah menyerang seseorang yang memiliki stamina dan daya imunitas yang tinggi. Zat yang dibutuhkan untuk meningkatkan imunitas tubuh akan didapatkan melalui konsumsi vitamin, makanan/minuman herbal, dan diselingi kegiatan olahraga. Berjemur di pagi hari juga dianjurkan oleh para pakar sebagai bagian dari upaya peningkatan imunitas itu.
Keenam, Solidaritas dan kepedulian sosial. Ini fakta yang datang pada saat wabah virus corona terjadi. Kesulitan hidup terjadi di mana-mana. Pasar dan pertokoan sepi. Pabrik-pabrik banyak yang tutup dan “merumahkan” karyawannya. Angkutan umum tidak bisa membawa poenumpang secara maksimal karena dibatasi. Hal ini memancing sebagian dari kita untuk menunjukkan sikap peduli dan memberikan bantuan materi kepada sesama yang sedang dirundung kesulitan. Termasuk donasi untuk membantu para medis dan aparat yang berada di garis depan melalui sumbangan Alat Pelindung Diri (APD) maupun alat-alat kesehatan lainnya.
Ketujuh, para pakar berlomba menemukan obat anti corona. Kondisi ini memancing para pakar dan ilmuwan kesehatan untuk berinovasi. Saat ini penting untuk tujuan kemanusiaan. Besok lusa tentuk bisa berdampak baik untuk industri farmasi kita. Siapa menyangka, bahwa para peneliti kitalah yang nanti bisa menemukan vaksin yang paling efektif untuk membunuh viris corona ini. Masih banyak manfaat (positif) lain dari mewabahnya virus corona ini.
Misalnya bagi lingkungan: kualitas udara membaik (karena berkurangnya polutan yang dihasilkan asap kendaraan, pembakaran, dan lain-lain), berkurangnya emisi gas (terutama di daerah yang memberlakukan lockdown atau PSBB), dunia baru untuk satwa liar (seiring berkurangnya mobilitas manusia yang menutup ruang gerak satwa ini), menarik perhatian pada perdagangan satwa liar dunia (ingat covid-19 ini berawal dari Kota Wuhan, tempat transaksi terbesar satwa liar di China), konsumsi plastic dan BBM turun (karena kira lebih banyak berada di rumah)
Bukan Menyukuri Wabah, tapi Mengambil Himah
Namanya juga wabah, pasti lebih banyak memberikan dampak yang merugikan daripada keuntungannya. Selain kematian ia juga membuat kesulitan hidup di mana-mana. Tidak heran jika ada sebagian masyarakat yang mencoba menunjukkan keputus-asaannya dengan ungkapan, “Di luar mati karena corona, di rumah mati kelaparan. Apa bedanya?”
Di kelompok lain, ada juga yang mencoba berdalih, “Corona adalah ciptaan Tuhan. Mengapa takut corona? Takutlah kepada Tuhan yang menciptakan dan meniadakan corona itu!” . Atau mungkin kita pernah melihat tayangan viral di televisi. Seorang suami “siaga” berteriak-teriak di depan aparat yang mengawal PSBB manakala diminta memindahkan istri tercinta untuk duduk di belakang, “Saya menghormati aturan yang dibuat manusia. Tapi saya lebih takut dengan aturan yang dibuat Tuhan!” Entahlah… Apapun pandangan dan tanggapan kita terhadap semua “pembelaan” orang-orang tersebut, mari kita berwawas diri.
Bahwa yang kita lakukan mungkin berpengaruh terhadap orang lain. Covid-19 ini tak kasat mata dan terkadang pengidapnya “tanpa gejala”. Segala bentuk pembatasan sosial dan fisik oleh Pemerintah bertujuan agar kita tidak tertular atau menularkan covid-19 ini pada orang lain. Wabah tetap wabah.
Ia pasti lebih banyak membawa derita. Tapi ada hikmah dibalik semuanya. Mari kita ambil hikmah positif dari semua kejadian yang kita alami atau kita saksikan. Covid-19 telah memberikan banyak pelajaran kepada kita: ketakutan, kesedihan, kesabaran, kepedulian, tontonan, bahkan tuntunan. Di mana posisi kita, lakukanlah yang terbaik.
Wallohu ‘alam bish-showab…
(Credit by: Agus Sudiana)

0 Comments